
Sebenarnya aku bukanlah orang ponorogo.,tetapi aku mencoba mencari apa tho yang namanya grebeg suro.,setelah lama mencari akhirnya ketemu juga artikel tentang Grebeg Suro.,sering sih liat grebeg suro, mulai dari liat pagelaran reog sampai kirab tapi sebatas itu aja.
Dalam buku-buku babad Ponorogo menyatakan bahwa, Batoro Katong (pendiri Ponorogo) adalah utusan Kerajaan Demak untuk menyebarkan Islam di Ponorogo, serta beliau adalah saudara kandung tapi lain ibu dari Raden Patah, Sultan Demak kala itu.
Bahkan banyak para mubaligh di Ponorogo yg “memaksakan” kata WAROK yg berarti WARA, yg istilah dalam bahasa arab artinya “orang yg menjaga dari hal-hal yg subhat”. Jadi memang tidaklah berlebihan kalau Ponorogo menjadi sebuah ikon sebuah kota yg islami.
REYOG merupakan sebuah kesenian asli dari Ponorogo yang bahkan menjadi icon pariwisata propinsi Jawa Timur. REYOG tidak bisa dilepaskan dari Ponorogo, karena apabila orang menyebut REYOG yang terlintas adalah Ponorogo dan demikian pula sebaliknya, kalau menyebut Ponorogo yg ada dalam fikiran adalah REYOG.
Konon REYOG ini merupakan salah satu media dakwah para da’i saat itu untuk memasukkan Islam ke tengah masyarakat.
Sekarang kita lihat “nafas” yang ada di Ponorogo. Sejenak, kita tinggalkan pondok pesantren yang mempunyai ribuan santri yang selalu dibanggakan oleh sebagian masyarakat Ponorogo. Kita lihat acara Grebeg Suro yang menjadi agenda tahunan bagi pemerintah daerah dan masyarakat Ponorogo.
Setiap perayaan Grebeg Suro yang memakan waktu hamper 3 minggu di awali dengan pentas tari si POTRO yang dilanjutkan dengan Simaan Al Quran dan Istigotsah yang dihadiri ribuan masyarakat Ponorogo.
Hari-hari berikutnya diisi dengan pameran-pameran industri, pangan atau pembangunan serta perlombaan-perlombaan mulai dari bidang agama sampai dengan festival REYOG.
Acara-acara ini umumnya masih berupa acara kesenian biasa yang merupakan produk budaya dari masyarakat. Tetapi yang patut menjadi catatan disini adalah adanya sebuah ritual khusus, yaitu apa yang disebut Kirab Pusaka dan Larung Risalah di Telaga Ngebel.
Kebiasaan tersebut, menurut informasi yang saya terima tidak mempunyai latar belakang sejarah yang bisa dipertanggung jawabkan. Apalagi bila dikaitkan dengan image Ponorogo yang telah saya tuliskan di awal.
Kalau memang benar, bahwa Batoro Katong itu adalah penyebar agama Islam, dan WAROK adalah alih bahasa dari WARA yg artinya menjaga dari hal subhat, berarti kita harus bicara dalam konteks ajaran Islam yang benar.
Ajaran Islam yang bagaimana yang mengagung-agungkan pusaka/senjata, sehingga harus di arak keliling kota?
Dan lagi, ajaran islam apa yang mengajarkan bahwa sebagai bukti syukur kita kepada Tuhan itu adalah dengan cara “melarung ” tumpeng dan segala macam makanan ke dalam telaga Ngebel ? Walaupun toh katanya, disamping tumpeng yang dilarung juga ada risalah doa (rajah) yang ikut dilarung.
Bukannya rajah-rajah tersebut adalah simbol kesyirikan yang para ulama sepakat bahwa hal tersbut adalah haram dan yang melakukannya di cap sebagai musyrik?
Dari sini kita sudah mendapatkan kerancuan tentang sejarah Ponorogo. Bisa jadi teori yang menyatakan bahwa Batoro Katong adalah da’i yang ditugaskan untuk memasukkan Islam ke Ponorogo hanyalah sebuah teori yang dipaksakan.
Bagaimana mungkin seorang da’i dan seorang yang selalu menjaga hal-hal subhat, menurunkan kebiaasaan “larung tumpeng” (walaupun sekarang diganti menjadi larung risalah) yang tidak ada penjelasan sedikitpun dari sumber-sumber Islam baik Sunnah Nabi maupun Al Quran Karim.
Sektor pariwisata di Ponorogo memang harus ditingkatkan untuk menambah PDB Ponorogo, tetapi apalah artinya apabila harus menggadaikan aqidah yang bisa menyengsarakan anak-anak kita nanti, bahkan kita sendiri di akherat kelak?
Alangkah indahnya apabila perayaan Grebeg Suro dilakukan seiring dengan pemurnian aqidah, tanpa adanya hal-hal yang berbau syirik. Saya yakin, orang tertarik akan Grebeg Suro bukan pada Larung Risalah-nya namun lebih tertarik akan festival REYOG-nya.
Harusnya, festival REYOG ini serta pemeran-pameran potensi yang ada di Ponorogo yang digarap secara serius oleh dinas Pariwisata setempat, bukan malah mengadakan hal-hal yang bisa merusak aqidah masyarakat.
Sumber : dari berbagai sumber
Grebeg Suro
Posted on 22 Desember 2008 by rediaja







mari lestarikan budaya bangsa
salam kenal ajah
apiiiiiiikkkkkkkkk yooooooooooooo
ini budaya kotaku.warisan nenekmoyangku
tidak benar kalau ini budaya islam arab.nenekmoyangku bukan islam tetapi hindujawa.batarakatong adalah penentang islam yang gigih bersama raja dan pangeran2 majapahit yang dihianati oleh anak dari gundik china cempa.yang bekerjasama dengan tukang sampah.penjaga sungai yang bergelar kalijaga
hidup bangsaku,budaya asliku.tanggalkan yang import yang bau apek sorban arab.
hidup bangsa jawa
Kanqen Bumi reoq…!!
(
kalo masalah budaya memang kita dari jaman dulu sudah tahu bahwa dari nenek moyang,,,akan tetapi jangan dicampur adukkan antara budaya dan agama..karena beda antara keduanya….
hay aq sonny nak malang ja…aq pling sneng kesenian tradisional trutama reog ponorogo…dari dulu smpk skrang pun aq jg ikt kesenian tsb tp aq kesulitan dpt wallpapers nya tlng krimi aq ke emil aq yach,please……..trim’s
[...] http://rediaja.wordpress.com/2008/12/22/grebeg-suro/ [...]
mohon maaf sebelumnya saya anang asli warga ponorogo untuk postingan di atas anda terlalu mengambil kesimpulan sepihak saja dan tidak mengikuti alur dari sejarah. seharusnya anda menarik kesimpulan dari berbagai versi bukan hanya dari 1 versi saja.